Bayangkan di dalam kelas-kelas yang berbeda di sekolah-sekolah di seluruh negeri terdapat kondisi yang sama selama kelas membaca dimana seluruh siswa terlibat aktif dan gembira dalam kegiatan membaca. Kegiatan tersebut hanya diselingi oleh cepatnya anak-anak membalikkan halaman bukunya, suara tertawa kecil kegirangan, fokus yang baik, dan kadang-kadang tertawa terbahak-bahak secara tiba- tiba. Bayangkan sebuah kelompok dari 4 orang anak yang aktif, membaca dengan tenang dan dengan fokus yang sangat baik selama 30-40 menit di sudut kelas. Bayangkan sebuah kelas yang terdiri dari siswa-siswi yang membaca setiap hari, sementara guru mereka berkeliling kelas mengadakan kegiatan konferensi dengan siswa satu per satu dengan kemampuan membaca siswa-siswi yang berbeda-beda. (M.Reis, Sally, 2008:1)
Bercermin dari fakta literasi, Indonesia memiliki minat baca yang sangat rendah yaitu 0,001% yang artinya dari 1000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang memiliki minat membaca. Hal ini didukung pula oleh hasil PISA yang menunjukkan hasil serupa dimana peringkat Indonesia masih konsisten di peringkat yang memprihatinkan. Sebagai tindakan nyata, pemerintah telah meluncurkan gerakan literasi sekolah (GLS) sejak tahun 2016 serta diperkuat dengan adanya kebijakan pengembangan literasi di tahun 2021 dengan berkosentrasi pada pengadaan buku bacaan untuk pendidikan usia dini (PAUD) dan sekolah dasar. Pemerintah juga telah memfokuskan kemampuan literasi membaca dalam salah satu kompetensi asesmen kompetensi minimum. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan minat baca mulai dari para generasi muda di bangku sekolah. Namun sebenarnya apa yang menyebabkan minat membaca di Indonesia sangat minim? Siapa yang berperan dalam memperbaiki wajah literasi di Indonesia? Bagaimana cara mengeksekusi program-program literasi tersebut di sekolah?
Literasi baca dan tulis adalah pengetahuan dan kecakapan untuk membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah, dan memahami informasi untuk
menganalisis, menanggapi, dan menggunakan teks tertulis untuk mencapai tujuan, mengembangkan pemahaman dan potensi, serta untuk berpartisipasi di lingkungan sosial. Dalam lingkup pendidikan, setiap siswa memiliki kemampuan membaca yang beragam dan hal ini juga lah salah satu faktor yang menjadikan kelas membaca harus berdifrensiasi.
Di kelas 2 yang saya ajar, para siswa berada pada jenjang pembaca pemula dimana para siswa dipaparkan dengan berbagai bahan bacaan guna menumbuhkan minat membaca serta belajar bagaimana cara membaca. Dengan kata lain, siswa dituntut untuk mampu menerjemahkan bentuk tulisan ke dalam bentuk lisan. Dalam hal ini, tercakup pula aspek kelancaran membaca. Siswa harus dapat membaca wacana dengan lancar, bukan hanya membaca kata-kata ataupun mengenali huruf – huruf yang tertulis. Walaupun berada pada jenjang pembaca pemula, namun tidak semua siswa berada pada kelancaran membaca yang sama. Ketertarikan buku cerita juga beragam, ada yang suka membaca tentang petualangan, ada yang suka tentang fabel, ada yang suka cerita yang lucu, dan lain sebagainya. Untuk itu difrensiasi dalam pembelajaran membaca sangatah diperlukan.
Dalam melakukkan difrensiasi pembelajaran membaca, hal yang pertama kali saya lakukan adalah memetakan kemampuan membaca para siswa dengan melakukan asesmen membaca. Asesmen membaca yang saya lakukan adalah running record. Berdasarkan observasi awal, saya memilih satu cerita dari jenjang 2 dan satu cerita dari jenjang 3 yang bersumber dari buku digital letsreadasia. Teks pada setiap halamannya saya pindahkan dalam bentuk tabel. Pada tabel tersebut juga berisikan B (benar), S (salah), KD (koreksi diri), dan total kata. Saya juga menyiapkan 6 soal literal dimana siswa dapat menemukan jawabannya langsung dari teks cerita dan 4 soal saya buat di luar teks untuk melihat kemampuan siswa membuat koneksi antara teks dengan hal lainnya, bisa terhadap diri sendiri ataupun lingkungan sekitar serta kemampuan bahasa para siswa seperti soal antonim, sinonim, dan juga kelompok kata untuk mencari tahu adanya siswa-siswa yang memiliki pemahaman lebih di atas jenjangnya.
Setelah selesai dengan perangkat asesmen membaca, saya membuat jadwal konferensi siswa. Setiap siswa yang saya panggil akan membaca teks yang diujikan sesuai obeservasi awal. Penghitungan waktu membaca dimulai saat siswa membaca kata pertama. Saat mendengarkan siswa membaca, saya pun melakukan pengecekan kebenaran baca dengan memberi tanda centang pada kata yang dibaca benar, tanda S
pada kata yang dibaca salah, serta KD pada kata yang dikoreksi sendiri oleh siswa dan menuliskan kata awal yang mereka sebutkan sebelum dikoreksi. Setelah selesai membaca, siswa akan diarahkan untuk mengerjakan 10 soal pemahaman membaca secara mandiri. Dari asesmen membaca tersebut saya mendapatkan akurasi benar dan perbandingan kesalahan membaca siswa serta pemahaman siswa dalam membaca melalui soal yang mereka kerjakan.
Setelah melakukan asesmen membaca, saya akan mengetahui jenjang membaca yang sesuai untuk para siswa saya. Siswa yang mencapai akurasi kebenaran
95-100% berada pada tahapan membaca mandiri, dimana jenjang membaca yang diujikan merupakan jenjang membaca aman bagi mereka dan siswa tersebut dapat disarankan untuk membaca 1 – 2 jenjang di atasnya. Siswa yang mencapai akurasi kebenaran 90 – 94% berada pada tahapan membaca berkembang, dimana jenjang membaca yang diujikan sudah sesuai untuk mereka dan bisa dilanjutkan. Sedangkan siswa yang mencapai akurasi kebenaran dibawah 90% berada pada tahapan perlu bimbingan, yang artinya jenjang membaca yang diujikan masih belum sesuai dan bisa disarankan untuk membaca pada jenjang yang lebih rendah dengan bahan bacaan yang diberikan bisa lebih sederhana. Untuk pemahaman membaca siswa, saya membuat 4 kategori yaitu kategori pemahaman sangat baik bagi siswa yang bisa menjawab benar 9-10 soal, kategori pemahaman baik bagi siswa yang bisa menjawab benar 8 soal, kategori pemahaman cukup baik bagi siswa yang bisa menjawab benar
6-7 soal, dan kategori perlu bimbingan bagi siswa yang mejawab benar 5 dan atau dibawah 5 soal.
Setelah mendapatkan data yang akurat terkait jenjang membaca siswa, saya mulai mengisi buku-buku bacaan di kelas sesuai jenjang membaca siswa. Saya memilih berbagai jenis atau tema bacaan untuk memberikan pilihan cerita yang beragam bagi siswa. Sebagian besar sumber buku kami cetak dari aplikasi buku digital letsreadasia dan sebagiannya lagi merupakan buku-buku cerita sekolah ataupun siswa yang disusun di perpustakaan kelas. Hal ini sangat penting dilakukan agar siswa lebih dekat dengan buku dan merasa nyaman serta senang dalam pembelajaran membaca ke depannya. Karena memberikan bacaan yang tidak sesuai dengan jenjang membaca para siswa dapat menjadi salah satu hal yang menyakitkan bagi siswa. Mereka akan menganggap diri mereka tidak bisa membaca karena tidak mendapatkan bacaan yang sesuai kemampuannya. Di sinilah kegiatan difrensisasi
pembelajaran membaca saya mulai. Saya memastikan setiap anak dapat membaca sesuai dengan jenjang kemampuan membaca mereka.
Sekarang saya akan bercerita tentang model pengayaan sekolah kompetensi membaca atau dalam istilah aslinya bernama Schoolwide Encrichment Model for Reading. Dalam praktiknya saya sudah menggunakan model tersebut sejak tahun ajaran 2021-2022. Sesuai namanya, ini adalah model pengayaan sekolah yang dilakukan oleh seluruh warga sekolah di setiap kelas dan yang pasti model tersebut mendukung guru dalam melaksanakan kegiatan membaca di kelas dengan kemampuan membaca siswa yang beragam.
MPS-KM fokus untuk pengayaan seluruh siswa melalui keterlibatan yang menantang, pemilihan bahan bacaan oleh siswa, didampingi dengan cara berpikir tingkat tinggi dan strategi keterampilan membaca. Fokus kedua dari MPS-KM adalah instruksi membaca yang berbeda dan konten bacaan, juga pengalaman membaca yang menantang dan kesempatan yang lebih mahir dalam kegiatan metakognisi dan membaca mandiri. Dengan kata lain, MPS-KM menantang semua siswa, dari yang membaca belum lancar sampai pembaca mahir/berbakat.
MPS-KM mendorong kesenangan dalam proses belajar dengan fokus pada perkembangan pembaca mandiri, perencanaan pengalaman pengayaan, dan instruksi berdiferensiasi. Kegiatan ini kami implementasikan sebagai kegiatan literasi secara blok. MPS-KM terdiri dari tiga fase dinamis yang didesain untuk mendukung implementasi yang fleksibel untuk merespon/memenuhi kebutuhan siswa dan guru. Secara umum, setiap fase dilaksanakan berdasarkan kondisi harian dan alokasi waktu yang fleksibel. Di Prestige kami mengalokasikan 45 menit untuk kegiatan MPS-KM di hari Selasa- Kamis.
Pada fase pertama saya melakukan kegiaatan book hook atau kegiatan pengait buku dengan maksud menarik perhatian dan minat siswa terhadap buku bacaan karena pada dasarnya kita akan melakukan sesuatu yang kita sukai. Sehingga di fase satu ini guru akan memaparkan siswa dengan bacaan dan atau kegiatan yang berkaitan dengan dunia buku sehingga menumbuhkan minat baca siswa. Ada beragam jenis kegiatan yang bisa kita lakukan pada fase satu tersebut seperti membaca nyaring, memperkenalkan penulis dan atau ilustrator buku, berkunjung ke perpustakaan, bincang buku, dan atau mengundang guru tamu untuk membaca nyaring di kelas. Secara pribadi, kegiatan fase satu yang paling sering saya lakukan adalah kegiatan membaca nyaring.
Saya akan memilih satu buku cerita sesuai tema mingguan yang sudah direncanakan dari aplikasi buku digital seperti letsreadasia atau literacycloud.org. Lalu saya akan mulai membacakan cerita tersebut secara nyaring dengan intonasi dan juga ekspresi yang sesuai cerita selama 10-15 menit. Tak jarang saya menggunakan alat bantu untuk mendukung cerita seperti topi, kain, ataupun peluit seperti yang saya gunakan di video saya kali ini. Saat melakukan kegiatan membaca nyaring saya akan melibatkan siswa dalam cerita. Saya memilih gerakan ataupun teks yang menarik untuk dilakukan bersama atau diikuti oleh siswa. Saya juga mengajukan pertanyaan- pertanyaan terkait teks dan di luar teks untuk membuat koneksi membaca dengan pengalaman siswa, teks cerita lainnya, dan atau peristiwa di lingkungan sekitar. Sehingaa kegiatan membaca nyaring di fase satu tersebut benar-benar menjadi kegiatan yang interaktif yang melibatkan seluruh siswa.
Fase berikutnya adalah fase kedua yaitu kegiatan membaca mandiri terbimbing. Dalam fase ini biasanya saya akan memberikan waktu sekitar 10-15 menit untuk siswa dapat memilih buku dan membaca secara mandiri sesuai dengan jenjang membaca mereka. Sedangkan saya akan melakukan konferensi membaca kepada 2-3 siswa yang sudah dijadwalkan. Hal yang saya lakukan saat konferensi membaca dengan siswa adalah mendengarkan siswa membaca buku pilihannya dan menyimak kebenaran bacaan siswa. Saya juga menanyakan alasan mereka memilih buku tersebut dan mengajukan beberapa pertanyaan guna mengetahui pemahaman bacaan mereka. Setelahnya saya mengisi catatan konferensi pada reading log siswa. Di akhir kegiatan fase dua para siswa akan menuliskan informasi buku yang mereka baca mulai dari judul buku, penulis, jumlah halaman buku yang dibaca, serta lama membaca di reading log mereka.
Kegiatan akhir dalam rangkaian MPS-KM ini adalah fase tiga yaitu kegiatan membaca sesuai minat. Kegiatan ini merupakan kegiatan pasca membaca dimana pada saat awal pertemuan saya telah memberikan 3 pilihan kegiatan yang bisa dilakukan siswa pada fase 3. Hal ini untuk mefasilitasi minat dan keterampilan siswa yang beragam. Kegiatan yang ditawarkan bisa kegiatan membaca berpasangan, membuat buku ilustrasi, membuat cerita pendek, membuat komik, cerita bergambar, bookish play, membaca buku digital atau mendengarkan buku audio dan lain sebagainya. Di kelas saya, para siswa sangat suka kegiatan menggambar sehingga seluruh siswa memilih untuk membuat ilustrasi saat kegiatan fase tiga mereka. Hal itu pun saya dukung dengan membuatkan buku ilustrasi untuk mereka sehingga gambar
yang mereka buat bisa terkumpul dalam satu buku. Yang pastinya buku itu dapat menjadi awal mula para siswa mencoba menjadi ilustrator. Gambar yang mereka buat adalah gambar dari hasil bacaan mereka saat fase dua. Dengan kata lain, para siswa menceritakan salah satu hal yang paling menarik menurut mereka dari buku yang telah mereka baca dalam bentuk gambar. Kegiatan fase tiga ini pun biasanya kami lakukan sekitar 10-15 menit.
Pembelajaran membaca dengan menggunakan MPS-KM merupakan salah satu pilihan yang patut dicoba untuk melakukan pembelajaran membaca yang berdifrensiasi. Kegiatan ini dapat memfasilitasi seluruh siswa dengan masing-masing kemampuan dan minat bacanya. Para siswa bisa membaca buku sesuai jenjang membaca sehingga mereka dapat lebih nyaman dalam membaca. Para siswa dapat merasakan bahwa kegiatan membaca adalah suatu kegiatan yang menyenangkan bukan paksaan melalui rangkai fase-fase dinamis tersebut. Tumbuh minat baca dan meningkatnya kapasitas belajar mandiri para siswa adalah hal yang saya dapati di kelas saya. Para siswa menjadi lebih kritis dan mampu mengaitkan cerita terhadap hal sekitar. Saya sebagai guru juga dapat mengajarakan membaca dan serta strategi membaca kepada siswa secara menyenangkan dan pembelajaran lebih interaktif serta tidak monoton pada buku teks.
Namun demikian saya masih merasa waktu 45 menit belumlah maksimal untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Mungkin dengan penambahan menjadi 60 menit dapat menambah waktu kegiatan fase 2 dan fase 3 sehingga para siswa lebih banyak waktu kegiatan pengayaan membaca mandiri dengan membaca lebih banyak buku dan melakukan kegiatan yang lebih kompleks saat membaca peminatan.
Saya berharap tidak hanya Prestige yang sudah mulai merasakan manisnya pembelajaran membaca berdifrensiasi melalu MPS-KM, namun seluruh sekolah di Indonesia. Karena untuk memperbaiki wajah literasi Indonesia harus dimulai dari menumbuhkan kecintaan membaca dengan membaca sesuai jenjang serta memberikan pengalaman membaca menyenangkan kepada para siswa.
Oleh: Anni Kholila Nasution, S.Pd., Gr.
Sekolah: SD Swasta Prestige Bilingual School Medan
